Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

February 22, 2013

Tradisi Orang Jepang Memakan Kue Mochi

Tidak ada yang tahu dengan pasti bagaimana atau dari mana kue mochi berasal (ada yang bilang dari China), tapi kue yang terbuat dari beras yang ditumbuk ini sudah digunakan untuk perayaan tahun baru bagi para bangsawan Jepang selama periode Heian (tahun 794 - 1185). Pada awal abad ke 10, berbagai jenis mochi digunakan sebagai persembahan kekaisaran pada upacara keagamaan. Catatan dari era tahun 1.070 menyebut kue beras ini sebagai "mochii." Baru sekitar abad ke 18, orang-orang mulai menyebutnya "mochi." 


Berbagai teori menjelaskan asal muasal nama tersebut. Salah satunya adalah bahwa "mochi" berasal dari kata kerja "motsu," yaitu 'untuk menahan atau memiliki,' menandakan bahwa mochi adalah makanan yang diberikan oleh para dewa. Ada pula kata "mochizuki" yang berarti 'bulan purnama' dan ada orang yang menyebutnya "muchimi" yang berarti 'lengket.' Petani Jepang jaman dulu dikatakan memakan mochi pada musim dingin untuk meningkatkan stamina mereka. Para samurai suka dengan mochi karena mudah untuk disiapkan dan dibawa kemana-mana. Katanya suara mochi yang ditumbuk adalah tanda bahwa mereka hendak pergi ke medan perang. 

Sudah merupakan tradisi dalam masyarakat Jepang untuk memakan kue mochi dalam rangka merayakan acara tahun baru, karena itulah kita bisa melihat banyak orang melakukan mochitsuki pada bulan Desember ini. Mochitsuki adalah cara tradisional orang Jepang dalam membuat kue mochi menggunakan palu kayu untuk menumbuk-numbuk beras mochi yang dikukus dalam wadah batu atau kayu. Setelah beras menjadi lengket, dipotong menjadi potongan-potongan kecil kemudian dibentuk menjadi bulat atau oval. 


Di era modern ini, kue mochi sudah diproduksi secara massal di pabrik dan dijual di supermarket, mall dan toko kue. Bagi mereka yang ingin membuat sendiri di rumah, mereka bisa menggunakan mesin pembuat otomatis. Foto dibawah ini adalah contoh kue mochi yang sudah diberi berbagai macam perasa yang manis-manis... 


Mochi = 

Rambut Di Cukur Habis Supaya Malu

Bagi yang sering nonton film-film Jepang jaman dulu, pasti sudah bisa membayangkan betapa mengerikannya masa-masa dimana hukum para penguasa masih berlaku. Terutama bagi mereka yang dituduh melanggar peraturan, pasti jenis hukumannya akan diingat semua orang. Tidak ada itu yang namanya hak-hak warga sipil. Tidak ada itu yang namanya tim pembela atau pengacara. Jika kita ditahan karena diduga melakukan kejahatan, meskipun belum terbukti, sudah hampir pasti kita akan dihukum tanpa ada proses yang adil. 

Yang melakukan pelanggaran berat, hukumannya mulai dari penyiksaan fisik hingga leher yang dipenggal. Tapi bagi mereka yang melakukan pelanggaran ringan atau tidak fatal, misalnya seperti mencuri ayam tetangga, rambut mereka akan dicukur habis sampai botak di depan banyak orang. Untuk apa? Untuk ditertawakan. Bahkan sampai sekarang pun (terutama di Asia) jika warga desa ingin menghukum seseorang, mereka akan mencukur rambut orang yang bersalah itu dengan asal-asalan agar sengaja terlihat berantakan dan jelek untuk dijadikan tontonan. 

Lukisan tua di bawah ini adalah salah satu contoh dimana seorang pria dan wanita ketahuan selingkuh... 



Chonmage (丁髷) adalah jenis potongan rambut tradisional pria Jepang pada masa Edo. Di jaman modern sekarang ini, yang menggunakan gaya potongan chonmage adalah para pesumo profesional. Pada awalnya para samurai memotong rambut mereka sedemikian rupa agar bisa menopang helm samurai dengan stabil saat berlaga di medan perang, tapi lama-kelamaan menjadi sebuah status simbol yang dihormati. Maka dari itu kalau ada yang memotong rambut atas mereka, harga diri mereka juga hilang. 


Kasus yang menimpa Minami Minegishi membuatnya memotong rambutnya sendiri karena dia takut dikeluarkan dari AKB48. Dia ingin menunjukkan betapa menyesalnya dia karena telah melanggar peraturan dari manajemen, meskipun banyak orang yang berpendapat tidak perlu sampai sejauh itu. 

August 31, 2012

Sejarah Islam Di Jepang

Dari dulu Jepang dikenal sebagai negara penganut agama Shinto dan Buddha. Apakah ada mereka yang menganut agama Islam? Tentu ada. Sekarang mari kita balik ke masa lalu dan menulusuri jejak Islam di Jepang. 



Sebelum tahun 1900, hanya ada dua negara di Asia yang menikmati kemerdekaan penuh, yaitu Kekaisaran Ottoman di Turki dan Kekaisaran Jepang. Karena keduanya berada di bawah tekanan negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan dan mulai bertukar kunjungan. 

Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Turki di era 1876-1909, mengutus laksamana Uthman Pasha untuk melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada tahun 1890. Setelah Uthman Pasha selesai mengadakan pertemuan dengan Kaisar Jepang, dia dan enam ratus anak buahnya bersiap untuk pulang, meskipun saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Belum jauh kapal Al Togrul berlayar, badai besar menghantamnya sehingga menyebabkan lebih dari 550 awak kapal meninggal termasuk sang kapten. 

Layaknya sahabat yang baik, pihak Jepang lalu mengirim dua kapal untuk membawa para korban yang selamat untuk pulang ke Istanbul. Seorang wartawan muda Jepang yang bernama Shotaro Noda (ada yang menyebutnya Torajiro Yamada) juga ikut dalam perjalanan itu. Dia adalah orang yang telah mengumpulkan uang sumbangan dari warga Jepang untuk diberikan kepada keluarga korban yang meninggal. 

Setelah sampai di Istanbul dan menyerahkan uang sumbangan, Shotaro sempat bertemu langsung dengan Sultan Abdul Hamid yang kemudian memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang ke para pejabatnya. Tanpa berpikir panjang, Shotaro pun setuju. Selama tinggal di Istanbul, dia berkenalan dengan Abdullah Guillaume, seorang muslim yang berasal dari Liverpool, Inggris. Dia-lah orang yang memperkenalkan Shotaro kepada Islam. 

Akhirnya Shotaro-pun memeluk agama Islam dan memilih untuk diberi nama Abdul Halim Noda (ada yang menyebutnya Abdul Khalil), yang diyakini dunia sebagai orang Jepang pertama yang beragama Islam. 




Saat ini jumlah muslim di Jepang diperkirakan sebanyak 70.000 orang. Sekitar 90%-nya adalah orang asing yang datang dan bekerja di Jepang. Mereka berasal dari Indonesia, Pakistan, Iran, Bangladesh dan negara lainnya. Lalu sisanya 10% adalah orang Jepang asli. 

Tidak gampang menjadi seorang muslim di Jepang. Mereka selalu mendapatkan rintangan dan cobaan dalam menjalani kewajiban mereka. Persoalan yang paling sering muncul, tak lain dan tak bukan, adalah persoalan makanan; dimana mereka bisa mendapatkan makanan yang halal? 

Ya, memang tidak mudah mencari restoran yang bisa dinikmati orang muslim dengan tenang. Bersyukurlah bagi mereka yang tinggal dekat dengan restoran halal, tapi bagaimana dengan yang lain? Alhasil, mereka memasak makanan mereka sendiri atau beli makanan instan di minimarket terdekat. Bisa juga makan makanan cepat saji di McDonald's atau Kentucky Fried Chicken, asal tidak setiap hari. 

Kenapa? Karena bisa gemuk. 



Islam = Isuramukyo / イスラム教 

Jepang Memang Harus Di Bom?

Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 adalah dua hari yang paling penting dalam sejarah keberadaan Jepang. Hari dimana Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan lebih dari 200.000 jiwa dalam sekejap. Kemarin, Jepang kembali mengingat peristiwa pemboman mematikan itu dalam sebuah upacara peringatan yang ke 67 tahun. 

Lebih dari 50.000 orang hadir dalam upacara tersebut, termasuk perwakilan dari 70 negara sahabat dan Clifton Truman Daniel, cucu Harry Truman, presiden Amerika Serikat yang pada waktu itu memberikan perintah pemboman di Hiroshima dan Nagasaki. 




Clifton tidak ingin berkomentar mengenai pertanyaan apakah kakeknya telah mengambil keputusan yang benar atau salah 67 tahun yang lalu. "Saya berada dua generasi dibawah orang-orang yang terlibat perang, jadi saya tidak berhak menjawab pertanyaan itu. Yang saya tahu sekarang adalah saya mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa kita tidak lagi menggunakan bom nuklir." 

Kalau dipikir-pikir lagi, setelah peristiwa pemboman itu, ada satu hal penting yang terjadi dan ada satu hal penting yang tidak terjadi. Yang terjadi adalah pihak Amerika menewaskan ratusan ribu jiwa, memaksa Jepang untuk menyerah dan itu mempercepat berakhirnya Perang Dunia II. 

Yang tidak terjadi adalah, Perang Dunia akan berlangsung lebih lama, dan mungkin, akan menewaskan lebih banyak orang. Jika Perang Dunia terus berlangsung, maka kemungkinan besar Jepang akan sangat berbeda dengan Jepang yang kita semua kenal hari ini. Jepang mungkin tidak akan semenarik sekarang yang kita lihat di televisi dan majalah-majalah. 

Mungkin kita tidak akan mengenal yang namanya One Piece, Naruto, Gundam dan Doraemon. Bagaimana menurut kamu? 

July 7, 2012

Tanabata, Festival Cinta Pada Malam Ketujuh

Orihime, putri Kaisar Tentei, adalah seorang dewi penenun yang membuat pakaian-pakaian indah untuk ayahnya. Pada suatu hari ia duduk termenung di samping sungai Amanogawa. Rupanya Orihime sedang diliputi kesedihan karena ia saking sibuknya dengan tenunan sampai-sampai dia tidak bisa jatuh cinta. 

Tentei, sang penguasa langit, pun ikut sedih. Lalu dia mengatur sebuah pernikahan untuknya dengan Hikoboshi, si penggembala sapi, yang tinggal di seberang sungai. Pasangan itu sangat bahagia dan sangat mencintai satu sama lain. Mereka bertemu setiap hari. Akibatnya, mereka mengabaikan pekerjaan mereka. Mereka lupa kalau mereka mempunyai kewajiban yang harus mereka lakukan. 

Ini membuat marah Kaisar Tentei, sehingga dia memutuskan untuk memisahkan pasangan tersebut dan menempatkan mereka kembali di sisi sungai yang berlawanan. Tentei menetapkan bahwa pasangan itu hanya boleh bertemu dan melihat satu sama lain pada satu malam setiap tahunnya, yaitu pada hari ketujuh di bulan ketujuh. 





Tanabata (juga dikenal sebagai festival bintang) adalah festival yang merayakan penyatuan antara dua orang yang sedang jatuh cinta yang sudah lama tidak bertemu. Festival ini berasal dari negeri China dan dianggap hari Valentine-nya orang China dimana banyak pasangan kekasih merayakan dengan makan malam sederhana nan romantis. 

Dalam tradisi Jepang, orang-orang menulis keinginan mereka pada kertas tanzaku (kertas berwarna-warni) dan menggantungnya pada pohon bambu. Orang juga menghiasi pohon bambu dengan berbagai macam ornamen dan dekorasi kertas serta menempatkannya diluar rumah mereka. 

Keinginan yang ditulis pun bisa bermacam-macam. Tidak harus berhubungan dengan jalinan cinta mereka. Banyak yang menulis untuk kesehatan mereka, pekerjaan yang lebih baik, dan lain-lain. Tidak semua orang di Jepang merayakannya secara bersamaan. Ada yang hari ini, ada pula yang di bulan Agustus, tergantung tradisi daerahnya masing-masing. 





Sekarang pertanyaannya: Bagaimana rasanya kalau kamu bisa bertemu dengan kekasihmu hanya satu hari dalam satu tahun? 


Tanabata = 七夕

June 21, 2012

Upacara minum teh



(茶道, sadō, chadō, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯, chatō?) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.
Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.
Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.
Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.
Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.
Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.

chanoyu2

January 31, 2012

3 Hal Di Jepang Yang Dianggap Kelewat Mahal Oleh Turis Asing

Kita tahu bahwa Jepang memang terkenal sebagai negara dengan biaya hidup yang tinggi. Tapi tampaknya beberapa hal sengaja dijual kelewat mahal disana. Berikut adalah 5 hal yang dianggap terlalu mahal oleh para turis asing yang sedang berkunjung ke Jepang...


1. Makan di Restoran

Meskipun ada banyak restoran menawarkan harga yang wajar karena krisis ekonomi, banyak turis mengatakan bahwa makan di restoran Jepang kelewat mahal. Keluhan utamanya adalah bahwa porsi yang dihidangkan terlalu kecil, sehingga harga totalnya akan lebih mahal bagi mereka yang biasa makan banyak.





2. Buah Melon

Disini, buah melon (dari kota Yubari) pernah terjual dengan harga 2,5 juta yen atau sekitar Rp. 250 juta. Hampir semua turis asing terkejut bukan main ketika melihat sepasang buah melon yang dijual dengan harga antara 10.000 sampai 30.000 yen. 




Ternyata orang Jepang menganggap bahwa buah melon adalah buah eksklusif yang sangat cocok untuk diberikan sebagai hadiah kepada atasan, klien besar atau orang tua.


3. Tiket Bioskop

Mau nonton film di Jepang? Sebagai turis, sebaiknya gak usah. Harga rata-rata tiket bioskop di Amerika Serikat adalah $7,95 (sekitar Rp. 70.000). Di Indonesia, tiket bioskop dijual antara Rp. 35.000 sampai Rp. 50.000. Di Jepang, kita harus membayar minimal 1.800 yen atau sekitar Rp. 180.000 untuk sekali nonton.

Yup, itu adalah 3 hal yang menurut para turis kelewat mahal di Jepang. Sebenarnya ada banyak harga barang di Jepang yang dijual kelewat mahal, tapi karena mereka jalan-jalan sebentar, hanya itu yang mereka ingat dengan jelas. Apalagi yang melon itu.

source : LINK

December 31, 2011

Suasana Beberapa Tempat di Jepang Saat Natal 2011

HARAJUKU






SHIBUYA






OMOTESANDO








ROPONGI HILLS






November 10, 2011

Kendo (Ilmu Bela Diri Dari Jepang)



Kendo seni pertahanan diri jepang yg mengunakan pedang “way of the sword” yang digambarkan di televisi atau film. Walaupun dasar-dasar penting dari kendo dapat dilihat pada masa kuno yang di pakai latiahan oleh para prajurit Jepang , kendo pada masa sekarang ini adalah dimaksudkan sebagai carapenggunaan pedang dan bushido (jiwa samurai) denagan tujuan untuk membangun karakter, disiplin, dan rasa hormat. Yang sangat mengakar kuat pada tradisi dan kebudayaan Jepang, kendo sepatutnya tidak disamakan dengan sebuah “olahraga” akan tetapi sebagai lebih tepat jika sebagai sebuah cara hidup. Seorang kendoka (seseorang yang berlatih kendo), yang tahubahwa kendo adalah sebuah pengalaman seumur hidup dan hanya dengan melalui kerendahan hati mereka dapat menjaga pikiran tetap terbuka untuk terus belajar dan maju . Kendo dalam skala internasional diatur oleh All Japan Kendo Federation (AJKF). Setelah memperoleh hak untuk menjadi induk organisasi global untuk kendo, kemudian dibentuklah FIK (Federation International de Kendo).
  • Seragam kendo: gi dan hakama
  • Pedang dari bambu (shinai)
  • Bogu, yang terdiri atas
    • Men (pelindung kepala)
    • DO (pelindung badan)
    • Kote (pelindung tangan)
  • Tare (pelingung paha dan kemaluan





untuk info lebih jelasnya silahkan kunjungi KLIK

Pengertian Shodo



Seni menulis indah menggunakan kuas dan tinta hitam atau yang lebih dikenal dengan istilah kaligrafi sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kaligrafi pertama kali dikembangkan di negeri China. Awalnya kaligrafi mengutamakan keindahan tulisan saja, namun lama-kelamaan mengarah ke sebuah seni. Seni ini lalu diperkenalkan di Jepang pada abad ke 17 bersamaan dengan penyebaran agama Budha dari India menuju Korea, China, dan Jepang, di mana kitab suci Budha sudah ditulis dengan kaligrafi China saat agama tersebut diperkenalkan di Jepang.
Shodo dalam bahasa jepang yang artinya Kaligrafi (the Way of Brush),yang berasal dari huruf kanji kaku (menulis) dan michi(cara) adalah salah satu bentuk seni yang telah di pelajari selama lebih dari 3000 tahun yang lalu. Meskipun shodo merupakan kebudayan yang cukup kuno, namun orang Jepang masih mempertahankan kebudayaan itu, terbukti hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik untuk mempelajarinya, bahkan di sekolah-sekolah para murid (biasanya murid SD) diajarkan shodo.Pengetahuan akan seni kaligrafi adalah salah satu langkah yang penting di dalam memahami budaya Jepang. Kaligrafi bukan hanya sebuah latihan menulis yang baik, tetapi lebih merupakan awal mula nya bentuk seni dari oriental. Kaligrafi adalah sebuah kombinasi antara skill dan imajinasi seseorang yang telah belajar secara intensive penggunaan kombinasi-kombinasi garis-garis. Sekilas shodo tampak mudah dibuat, namun orang yang masih pemula akan langsung mengalami kesulitan saat mencobanya, karena banyaknya hal yang harus diperhatikan, mulai dari keseimbangan bentuk tulisan, tarikan garis, tebal-tipisnya garis, hingga irama tulisan.
Di dunia barat, kaligrafi di maksudkan untuk menekan individu dan untuk menciptakan gaya yang sama. Kaligrafi Jepang (sho dalam bahasa Jepang) berupaya untuk membawa suatu kata kedalam kehidupan, dan memberikan nya anugrah dengan bentuk karakter. Gaya kaligrafi Jepang sangat individualistik, berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Kaligrafi Jepang menghadirkan suatu masalah bagi orang barat yang berusaha untuk memahami nya; suatu hasil karya seni kaligrafi bisa di selesaikan hanya dalam hitungan detik, oleh karena itu, bagi seorang yang tidak memahami kaligrafi Jepang, mereka tidak akan bisa menghargai seberapa besar tingkat kesulitan yang ada dalam suatu karya seni kaligrafi.
Yang perlu di ingat bahwa, karakter-karakter yang di tulis di sebuah karya seni kaligrafi hanya boleh di tulis satu kali coretan. Tidak boleh ada pengulangan, penambahan atau finishing di suatu karya seni kaligrafi.
Sejarah Singkat Shodo
Sejarah kaligrafi Jepang dapat di lihat kembali ke asalnya yaitu kebudayaan Cina dan penciptaan sistem tulisan cina itu sendiri kira-kira sekitar 4.500 tahun yang lalu. Kaligrafi telah di kembangkan dalam waktu yang sangat lama pada saat dibawa nya ke Jepang yaitu sekitar abad ke 6 bersamaan dengan awal mulanya sistem menulis cina (kanji) masuk ke Jepang.
Di masa Heian, orang Jepang sudah memulai menunjukkan pencapaian yang cukup luar biasa di dalam bentuk seni yang baru “Three Great Brushes” (atau sanpitsu) oleh pendeta Buddha, Kuukai (774 - 835), Kaisar Saga (786 - 842) dan petugas kekaisaran Tachibana no Hayanari (778 - 842) telah mencapai pendewaan gaya kaligrafi yang kemudian menjadi popular dari master Cina T’an, Yan Zhenqing (709 - 785).
Ada 5 script dasar di dalam kaligrafi Cina: tensho (seal style), reisho (clerical style), kaisho (block style), gyosho (semi-cursive style), sosho (cursive stye, atau di sebut “tulisan rumput”). Ke lima-lima nya ini telah muncul sebelum akhir abad ke 4. Sebagai tambahan, orang Jepang telah mengembangkan karakter kana sepanjang abad ke 8, karakter-karakter yang melambangkan bunyi ini bertolak belakang dengan karakter yang di pakai sebagai ideographic (kanji). Tiga jenis kana telah di kembangkan yaitu, manyogana, hiragana dan katakana.
Manyogana adalah karakter Cina tertentu (kanji) yang di gunakan secara phonetik untuk melambangkan syllable Jepang, dan di beri nama setelah koleksi poetry Manyoshu di abad ke 8. Di saat koleksi ini di kompilasi, orang Jepang belum memiliki sistem tulisan mereka sendiri. Sebagian poem Jepang di tulis dalam karakter-karakter Cina yang di pakai secara phonetic, dan yang lainnya karakter-karakter Cina terkadang di gunakan secara phonetic dan secara ideographic. Oleh karena itu, denga penggunaan penyederhanaan yang drastis, muncul lah hiragana dan katakana. Dan di tangan para bangsawan Jepang wanita, hiragana di kembangkan ke dalam script yang indah yang menjadi gaya kaligrafi khas Jepang.

Hampir tidak ada contoh seorang pun yang meskipun dia adalah jenius yang bisa menciptakan karya seni yang luar biasa tanpa latihan dengan menggunakan referensi ke tradisi zaman dulu. Agar dapat menguasai aturan-aturan nya, seseorang harus belajar dan menguasai teknik-teknik dan mengikuti nilai-nilai moral para guru masa lalu.
Cara Membuat Shodo
Keindahan kaligrafi tentunya tidak terlepas dari peralatan yang digunakan. Ada 6 jenis peralatan utama yang biasanya digunakan untuk membuat kaligrafi Jepang. Yang pertama adalahshitajiki, berupa alas untuk menulis. Biasanya alas ini berbahan semacam kain flannel yang permukaannya lembut dan berwarna hitam. Kedua adalah bunchinatau pemberat kertas berbentuk balok yang terbuat dari besi.
Peralatan lainnya yaitu kertas untuk menulis. Kertas yang digunakan bukan sembarang kertas, melainkan kertas yang tipis dan ringan, namun tahan lama dan dapat menyerap tinta. Kertas khusus ini dikenal denganhashi, berupa kertas dengan dua permukaan berbeda, di mana sebelah permukaannya kasar, sedangakan permukaan sebaliknya halus. Bagian inilah yang dipakai saat menulis kaligrafi. Ukuran hanshi umumnya berkisar antara 24 x 32,5 hingga 26 x 35 cm. Selanjutnya adalah perlengkapan yang paling utama dalam pembuatan kaligrafi, yaitu kuas yang dinamakan fude. Ada berbagai macam bentuk fude, mulai dari kecil hingga besar. Fudeukuran besar biasanya digunakan untuk membuat tulisan, sedangkan yang kecil digunakan untuk membubuhkan tanda tangan si pembuat kaligrafi. Batang fude terbuat dari bambu atau kayu pohon, sedangkan bulunya terbuat dari bulu hewan, seperti domba, musang, rakun, rusa, bahkan ekor kuda. Bulu itu kemudian diikat dan ditempelkan pada batang fude. Rapi tidaknya ikatan bulu fude sangat mempengaruhi tekstur tulisan. Tidak hanya fude saja tetapi juga tinta yang dipakai juga mempengaruhi hasil tulisan. Tinta yang dipakai untuk seni kaligrafi bisa berupa tinta botolan, namun agar hasil tulisan lebih maksimal, biasanya digunakan sumi, berupa tinta yang dipadatkan. Cara mencairkan sumi sangatlah mudah, cukup dengan menambahkan air lalu menggosok-gosokannya dalam wadah besi yang disebut suzuri.



Sebelum menulis kaligraf, keenam perlengkapan itu ditata sesuai aturan. Hanshi diletakkan di atas shitajiki, kemudian di bagian atasnya beri pemberat bunchin agar tidak bergeser ataupun tertiup angin. Sedangkan suzuriyang sudah berisi tinta sumi diletakkan di sebelah kanan bersebelahan dengan fude. Kadang-kadang fude juga diletakkan di atas fudeoki, yang mirip seperti balok kecil untuk menyimpan sumpit.
Untuk menulis kaligrafi bahasa Jepang, hal pertama yang harus dikuasai tentunya tulisan Jepang, mengingat urutan penulisan huruf Jepang tidak sama seperti menulis huruf alphabet. Hal ini sangat penting, karena kesalahan sekecil apapun akan tampak jelas pada hanshi. Selanjutnya adalah tata cara menggunakan fude. Cara memakai fude yang benar adalah menggenggam bagian tengahnya, dan saat mencoretkan tinta pada hanshi, fude diarahkan tegak lurus, pergelangan tangan dan siku tidak boleh menyentuh meja.

November 6, 2011

Kisah Nyata Yang Melegenda Di Jepang

Ini tentang Hachiko, seekor akita inu yang lahir tahun 1923 di Jepang. Awalnya dia dipelihara oleh seorang profesor bernama profesor Hidesaburo Ueno. Karena sang prof biasa naik kereta lewat stasiun shibuya tiap pukul 7 pagi dan pulang pukul 5 sore, Hachiko selalu mengantar prof pagi-pagi dan balik pukul 5 buat jemput di depan stasiun. Kebiasaan ini berlangsung selama 3 tahun hingga pada tanggal 23 Mei 1925 sang profesor meninggal saat mengajar.

Hachiko yang tidak mengerti kalau sang majikan udah wafat terus nunggu di depan stasiun selama 9 tahun. Dengan memilih tidur di bawah gerbong kereta rusak dan makan dari belas kasihan orang-orang di stasiun.


Hachiko selalu balik ke stasiun itu berapa kalipun dia dibawa dan diadopsi sama orang-orang terdekatnya prof. Hingga akhirnya pada tanggal 8 Maret 1935 tubuh Hachiko ditemukan sudah tak bernyawa di pinggir jalanan stasiun shibuya. Sebagai penghargaan akan loyalitasnya sebuah patung perunggu sekarang dipajang di depan stasiun shibuya dan diletakkan persis pada posisi di mana dia selalu nunggu majikannya setiap hari di depan stasiun.
suasana saat penguburan jasad hachiko

Saking menyentuhnya cerita ini sampai dibikin filmnya dalam versi jepang dan hollywood yang dimainkan oleh Richard Gere as Profesor..



Sang professor


Patung Perunggu Hachiko didepan stasiun Shibuya



Ramalan Cuaca Penting Di Jepang

Jepang merupakan kawasan beriklim sederhana dengan empat musim yang jelas. Disebabkan oleh jarak yang jauh dari utara ke selatan Jepang, iklimnya berbeda dari kawasan ke kawasan di mana utara Jepang mengalami iklim yang sangat sejuk pada musim salju dan selatan Jepang mengalami iklim subtropis. Iklim Jepang juga dipengaruhi oleh tiupan angin musim yang bertiup dari benua Asia ke Lautan Pasifik pada musim salju dan sebaliknya pada musim panas.

Akhir Juni dan awal Juli merupakan musim hujan bagi Jepang kecuali di Hokkaido, karena baiu zensen (梅雨前線) tetap di Jepang. Pada akhir musim panas dan awal musim gugur topan sering terbentuk. Topan ini terjadi sebagai akibat tekanan tropis di garis khatulistiwa yang bergerak dari barat daya ke timur laut dan sering membawa hujan yang sangat lebat.

Iklim Jepang terbagi atas enam zona iklim, yaitu:

* Hokkaido: Hokkaido mempunyai iklim yang sederhana yang disertai musim salju yang panjang dan sejuk. Pada musim panas bersuhu rendah dan sejuk. Penguapan tidak besar tetapi kepulauan-kepulauannya sering membentuk tebing salju yang tinggi ketika musim salju.
* Laut Jepang: Tiupan angin barat laut membawa salju yang sangat lebat. Pada musim panas, kawasan ini lebih sejuk dibandingkan kawasan Pasifik tetapi kadangkala suhu kawasan ini dapat mencapai suhu yang sangat tinggi karena fenomena angin Foehn.
* Dataran Tinggi Tengah (Chuo-kochi): Mempunyai iklim kawasan pedalaman biasa. Perbedaan suhu antara musim panas dan musim dingin dan waktu malam dan siang amat berbeda. Penguapan ringan.
* Laut Pedalaman Seto: Iklim sederhana sepanjang tahun karena kawasan gunung Chugoku dan gunung Shikoku menghalangi jalur tiupan angin musim.
* Lautan Pasifik: Mengalami musim sejuk yang mempunyai sedikit penurunan salju serta panas dan lembap pada masa musim panas disebabkan oleh tiupan angin musim dari tenggara.
* Nansei-shoto (Ryukyu) atau kepulauan di barat daya Jepang:Mempunyai iklim subtropis Mengalami musim salju yang agak panas dan musim panas yang bersuhu tinggi. Penguapan sangat berat terutama pada musim hujan. Topan adalah perkara biasa.

November 5, 2011

Arti Sebuah Agama Di Negara Jepang



Agama, Pendidikan dan Budaya Jepang


Agama Kebanyakan rakyat Jepang mengambil sikap tidak peduli terhadap agama dan melihat agama sebagai budaya dan tradisi. Bila ditanya mengenai agama, mereka akan mengatakan bahwa mereka beragama Buddha hanya karena nenek-moyang mereka menganut salah satu sekte agama Buddha. Pada hari ini Shinto, suatu agama yang berasal dari Jepang sudah hampir luput dari perhatian dan hanya diketahui oleh beberapa cendekiawan saja. Kebanyakan ajaran Buddha dan Shinto hanya dipraktikkan di dalam budaya seperti adab dan perkawinan. Sejumlah minoritas menganut agama Kristen, Shamanisme dan agama-agama Baru seperti Soka Gakkai. Sebagian agama baru ini berkait rapat dengan agama Buddha.

Pendidikan

  • Tingkat melek huruf: 99,8 (1990), 100,0% (2000)
  • Pendidikan wajib: 9 tahun (Dari umur 6 ke 15 tahun)
  • Jumlah pelajar sekolah menengah yang maju ke pendidikan tinggi kira-kira 96%

Budaya

Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula China dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar 300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, mempengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Jepun turut mengembangkan budaya yang original dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang.
Kini, Jepang merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusasteraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan kegemaran mengikut gaya mereka mempengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasaran muda-mudi yang amat cemerlang membawa ujian kepada barang-barang pengguna elektronik yang baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.
Baru-baru ini Jepang mula mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai Jepang.
Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan penghasilan makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.

October 4, 2011

Festival-festival Yang Ada Di Jepang

Saya sangat suka dengan kebudayaan jepang. Kebudayaan jepang mempunyai daya tarik bagi siapapun untuk mempelajarinya. Kebanyakan dari kebudayaan jepang itu adalah banyaknya peristiwa-peristiwa peringatan di jepang yang asal mulanya dari Cina. Beberapa peringatan tersebut sudah jarang dirayakan bahkan sudah hilang. Namun, beberapa perayaan lainnya masih dirayakan oleh keluarga-keluarga di jepang.

Bulan Januari
Biasanya, bulan Januari dimulai dengan perayaan tahun baru karena orang jepang akan mempunyai harapan-harapan baru. Umumnya, orang-orang akan menghias pintu rumah masuk mereka dengan kado Matsu dan Shime Nawa, yaitu tali jimat. Mereka makan Mochi untuk makan pagi. Mereka juga pergi ke kuil-kuil dan tempat suci untuk meminta berkat dan berdoa agar keinginan-keinginan mereka dapat terkabul

Bulan Februari
Biasanya, pada bulan ini masyarakat Jepang mengadakan perayaan Setsubun, yaitu perayaan yang menandakan berakhirnya suatu musim dingin yang panjang. Pada malam Setsubun, mereka menaburkan butir-butir kacang untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahar dan memohon datangnya hal-hal yang baik dan menguntungkan.

Bulan Maret
Tanggal 3 Maret adalah hari Hina Matsuri, yaitu festival boneka perempuan. Biasanya, anak-anak perempuan memajang boneka-boneka Hina di dalam sebuah ruangan. Bulan ini juga diadakan festival yang disebut Tango no seku. Festival ini diadakan khusus untuk anak laki-laki. Pada hari itu mereka menaikkan koi no bori (umbul-umbul ikan koi)

Bulan Agustus
Biasanya, pada bulan ini orang-orang di daerah Kansai merayakan Bon Odori, yaitu festival upacara kematian. Roh-roh leluhur akan datang ke dunia selama festival tersebut. Biasanya, roh-roh tersebut diundang pada hari pertama dan kembali di hari terakhir festival. Hal ini biasanya dilakukan sambil menyalakan lilin. Di Kyoto salah satu atraksi yang paling terkenal adalah Daimonji yang merupakan salah satu atraksi dalam festival ini.

Bulan September
Pada bulan ini, masyarakat Jepang biasanya senang menikmati bulan purnama karena langit sangat cerah dan bulan bersinar sangat indah.

Bulan Oktober
Di bulan ini, biasanya digunakan untuk kegiatan pertandingan olahraga. Di sekolah-sekolah diadakan pertndingan-pertandingan olahraga, baik tradisional ataupun modern. Di bulan ini, orang-orang juga melakukan hiking atau bersepeda. Bulan Oktober juga merupakan musim gugur yang berarti musim panen dan hal ini juga dirayakan karena sebagai ungkapan rasa syukur dengan hasil panen yang melimpah.

Bulan November
Tanggal 15 November adalah hari Shichi Go San Matsuri yaitu upacara bagi orang tua untuk membawa anak-anak mereka yang berusia tiga, lima, dan tujuh tahun ke tempat-tempat suci.

Bulan Desember
Di bulan ini semua orang akan sibuk. Mereka akan membersihkan rumah-rumah mereka, membuat atau menumbuk ketan untuk dijadikan Mochi. Pada malam tahun baru. Orang-orang menyambutnya dengan mendengar lonceng yang dibunyikan pada tengah malam.
Demikian penulisan ini tidak untuk bertujuan komersil tetapi agar dapat membuat anda sekalian mengetahui peristiwa-peristiwa atau festival-festival di Jepang. Kurang lebihnya saya mohon maag dan terima kasih.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons